Selamat Datang di Blog Korps Sukarela Palang Merah Indonesia Unit Institut Koperasi Indonesia (KSR PMI Unit IKOPIN)

Senin, 24 Oktober 2016

UNC Time



       UnC time, yaaayyy… inilah yang terjadi di sekretariat IKOPIN kalau ada yang namanya UKM and Community time atau bisa disingkat UnC time. UnC time itu ya dimulai dari perkenalan, sapa-sapa calon adik, games, dan berakhir makan-makan. Dari tahun ke tahun ya begitulah UnC time di KSR IKOPIN, anak-anaknya bahagia kalau udah UnC time. Bukan berarti bahagia di UnC time aja, tapi hampir di setiap acara. Untuk kita UnC time itu seperti waktunya bersyukur, karena di hari itu kita ketemu sama calon adik-adik kami yang baru. Ketemu wajah baru kan enak, seger dan ngga bosenin. Hehehe..
       Sebenarnya UnC time itu diadakan oleh BEM di sela-sela acara pengenalan kampus. Jadi kita ngga full seharian sama calon anggota. Ngga full di sekre maksudnya, kalau di kampus sih kita selalu deket sama mahasiswa baru. Biasa, ngeceng-ngeceng gitu kan kalau ada mahasiswa baru. Apalagi kita anak KSR, di mana ada mahasiswa baru lagi kegiatan pengenalan kampus ya kita ikutin. UnC time ini diadakan dengan tujuan mengenalkan UKM dan komunitas agar lebih dekat dengan mahasiswa baru. Kalau mengenalkan dengan jauh namanya demo, bahaya kalau demo deket-deket. Namanya juga mengenalkan kegiatan dengan mahasiswa baru, ya pastinya mengajak mahasiswa supaya di masa kuliah mereka jadi aktif berorganisasi. Ngga kuliah pulang kuliah pulang.
       Aktif berorganisasi itu bagus loh. Umumnya sih dapet pengalaman dan teman, ini kelebihan anak organisasi yang sekedar ikut organisasi aja. Kalau kita ikutin organisasi itu lebih dalam lagi, kita bakalan dapet lebih banyak hal. Softskill pasti terasah buat anak yang betah di organisasinya. Karena KSR itu bukan organisasi sebatas di kampus. KSR punya banyak hal, Salah satunya tertib administrasi. Tertib administrasi itu rasanya organisasi banget deh. Kalau ngaku anak aktif organisasi belum tau tertib administrasi sayang banget. Tertib administrasi itu membantu organisasi buat punya data dan fakta. Akademisi kan memang harus begitu, berbicara data dan fakta. Ngga bicara ngawur dan ngga berstruktur. Kalau masih ngawur dan ngga berstruktur, akademisi apa ya? Entahlah…
       Saya sendiri yang sudah ikut berorganisasi hingga tahun keempat bukannya malah semakin jenuh karena sudah pernah dicobain semuanya tapi malah semakin semangat karena ternyata masih banyak hal yang belum kita cobain di organisasi. Ya maklum, organisasi KSR memang luas, kita bagian dari PMI dan PMI bukan sekedar organisasi swasta nasional, melainkan bagian dari organisasi internasional. Hampir di setiap negara di dunia ada organisasi Palang Merah atau Bulan Sabit Merah. Jadi kita bisa punya relasi sampe ke luar negeri. Keanggotaan KSR pun seumur hidup, seiring dengan rasa kemanusiaan kita.
       Eh maaf jadi jauh dari topik UnC time. Hahaha.. intinya sih kalau UnC time itu waktunya UKM dan komunitas mendekati mahasiswa baru supaya aktif berorganisasi. Sekian yaa pembahasan acara kita kali ini. See you…

Senin, 24 September 2012

”Krisis Kemanusiaan dan Kemajuan Ilmu”


“Kemajuan teknik tidak saja membuktikan kekuatan serta daya manusia untuk menguasai alam, kemudian teknik itu tidak saja membebaskan manusia, tetapi juga memperlemah serta memperbudaknya, kemajuan itu memekanisasikan manusia dalam menimbulkan gambaran serta persamaan manusia dengan mesin.” (Nicolas Berdyev).

Kemajuan teknologi yang awalnya bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia, namun kenyataannya teknologi telah menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi kehidupan manusia. Ketika urusan yang dikelola manusia itu semkin mudah diselesaikan, maka muncul kesepian dan keterasingan baru yaitu lunturnya rasa solidaritas, kebersamaan dansilturrahmi. Misalnya, penemuan komputer, handphone dan sekrang tengah 
maraknya dunia internet yang mengakibatkan kita terlena dengan dunia layar. Hingga layar dijadikan teman setia, bahkan kita lebih mementingkan layar dari pada urusan sosial misalnya.

Bayangkan saja hampir setiap waktu, bahkan bangun tidur langsung menekan remot televisi untuk meliht layar, pergi ke kantor pencet tombol Hp masih melihat layar dan sampai di kantor kembali melihat layar komputer, sehingg hidup dipenuhi dengan dunia layar. Ditambah lagi sekarang tengah maraknya dunia internet, dunia maya seperti Facebookyang tengah berkembang di dunia maya. Akibatnya hubungan antar sesama jadi renggang akibat dari satu sama lain asyik dengan layarnya masing-masing.

Ternyata teknologi layar mampu membius manusia untuk tunduk pada layar dan mengabaikan yang lain. Jika manusia tidak sadar akan hal ini, maka dia akan kesepian dan kehilangan sesuatu yang amat penting dalam dirinya yaitu kebersamaan, hubungan kekelurgaan dan sosial yang hangat secara langsung. Seperti halnya dengan dunia facebook yang sekarang merambah luas, yang katanya untuk menjalin persahabatan, mencari teman dan sebagainya. Tapi itu hanyalah dunia maya, dimana kita hanya berhadapan dengan sebuah layar, tidak langsung dengan orangnya sehingga jika layar itu rusak orang-orang akan merasa sangat kehilangan.

Jelas bahwa di satu sisi teknologi menjadi penjara bagi manusia, namun pada sisi lain teknologi itupun dipenjara oleh kepentingan manusiaTeknologi layar telah jelas memenjarakan manusia karena dia tidak akan bekerja jika tidak ada komputer ataupun handphone. Namun, pada saat yang bersamaan manusia memamfaatkan layar untuk ambisinya. Maka tidak heran jika kemudian layar televisi yang luasnya hanya beberapa inci disesaki oleh berbagai program. Ibarat tong sampah, semua ada disana pasar, politik, ekonomi, flora, fauna dan sebagainya masuk televisi. Para penguasa televisi memamfaatkan betul kebutuhan  masyarakat, sehingga dia gunakan untuk mencari untung sebanyak-banyaknya.   

Bius teknologi pada manusia, ibarat orang yang pertama kali tinggal di dekat kandang kambing. Pada minggu pertama, tidurnya akan terasa sulit karena bau yang menyengat. Minggu kedua sudah agak bisa menyesuaikan diri dengan bau itu dan minggu-minggu selanjutnya akan terbiasa. Teknologi yang sedang melanda kehidupan sekarang juga di ibaratkan dengan orang yang bertempat tinggal di samping kandang kambing itu, saking asyiknya ia tidak sadar teknologi membuat ia terpinggirkan. Dia hanya berimajinasi sesuai dengan apa yang ditayangkan televisi, apalagi yang menonton itu anak-anak. Mislnya penayangan acara Smack Down, film-film kartun seperti Sinchan, Superman, yang dapat merusak moral anak-anak, karena mereka dapat saja menirukannya.

Krisis kemanusiaan tidak hanya terjadi akibat kemajuan teknologi, tetapi juga akibat kecenderungan, ideologi dan gagasan yang tidak utuh. Umat manusia sekarang sangat tergantung dan dimanjakan oleh teknologi, ketergantungan yang terus menerus menjadikan dia terlena dari eksistensi dirinya yang bebas dan kreatif. Secara tak sadar dia telah dipenjara oleh teknologi itu sendiri. Misalnya teknologi layar seperti komputer rusak, maka dia sangat repot karena semua urusan ada disana, dari agenda harian sampai proposal proyek.

Setelah ditemukan kemajuan teknologi yang begitu hebat, ternyata tanpa disadari teknologi itupun memeranjakan manusia, artinya penjara manusia tidak berkurang dengan kemjuan teknologi. Pada konteks inilah manusia perlu disadarkan, bahwa teknologi bukan tujuan tapi sekedar sarana untuk memudahkan urusan.

Jika kita tidak mau kehilangan eksistensi kemanusiaan dan terhindar dari krisis kemanusiaan, maka kita harus berjuang untuk membebskan diri dari kungkungan teknologi kembali pada eksistensi awal yaitu manusia yang kreatif dan dinamis. Penyadaran terhadap bahaya yang begitu besar bagi kemanusiaan perlu terus dikumandangkan, terutama kepada penguasa yang memiliki otoritas dalam mengambil kebijakan. Etika global perlu dirumuskan bersama karenakrisis akibat teknologi hanya berdampak untuk negara tertentu, tetapi mencakup semua negara. Pemanasan global akibat asap buangan dari pabrik dan kendaraan mengakibatkan es di Kutub Utara mencair sehingga akibatnya daratan semakin menyempit. Tempat tinggal manusia semakin menyempit, padahal jumlah penduduk semakin meningkat.Pada konteks ini, akan muncul berbagai persoalan dan krisis kemanusiaan itu sendiri.        

ULASAN FAM INDONESIA:

Sebuah artikel yang cukup menarik dengan mengambil judul “Krisis Kemanusiaan dan Kemajuan Ilmu” membawa kita untuk melek pada keadaan kita saat ini. Tetapi, kalau melihat isinya lebih mengarah kepada kemajuan ilmu dan krisis kemanusiaan. Jadi bukan bertolak dari krisis kemanusiaan mendorong terjadinya kemajuan ilmu tetapi karena kemajuan ilmu berdampak pada krisis kemanusiaan.

Penulis berangkat dari kutipan Nicolas Berdyev yang menyoroti dampak kemajuan teknologi terhadap kemanusiaan. Diikuti pandangan penulis pada paragraf kedua yang menyajikan dampak perkembangan teknologi yang menyebabkan ketergantungan manusia terhadap dunia layar, sehingga menyebabkan lunturnya solidaritas, kebersamaan dan silaturahim. Dan kita sekarang ”dianggap” lebih mementingkan dunia layar daripada urusan sosial.

Paragraf ketiga dan keempat, penulis mulai masuk pada bukti dengan mengambil sampelfacebook yang dianggap telah mengakibatkan hubungan antar sesama menjadi renggang hanya terbatas di dunia maya. Kenyataan yang ada malah sebaliknya, dengan HP dan facebook, malah membuat hubungan silaturahim menjadi semakin mudah. Kalau tanpa perangkat teknologi, kita akan bersilaturahim dengan saudara yang jauh membutuhkan waktu lama dan biaya yang besar, maka dengan teknologi sekarang bisa dilakukan dengan cepat dan hemat. Sementara untuk bertemu langsung, kalau tanpa HP atau facebook yang kita tuju bisa saja tidak ada di tempat karena suatu urusan. Tetapi dengan HP atau facebook kita bisa janji untuk bertemu pada saat yang ditentukan.

Jadi kemajuan teknologi tidak serta merta mengalihkan hubungan sosial ke dunia maya, malah sebaliknya hubungan sosial terjadi di alam nyata dan dunia maya.

Masuk pada paragraf kelima dan keenam, mulai terjadi inkonsistensi. Kalau pada awalnya penulis bersikeras pada keterpenjaraan manusia oleh dunia layar, pada paragraf kelima menyatakan bahwa layar juga dipenjarakan oleh manusia dengan berbagai hal yang bisa dilakukan manusia. Artinya, bukan kemajuan teknologi yang memenjarakan manusia, tetapi sikap manusia dalam memanfaatkan kemajuan teknologi yang menyebabkan dirinya terpenjara.

Paragraf terakhir yang merupakan kesimpulan pendapat penulis malah keluar dari konteks tema yang dibahasnya. Kalau di awal, penulis berangkat dari dampak kemajuan teknologi bagi hubungan sosial, maka di akhir menekankan perlunya dirumuskan etika global yang berhubungan dengan upaya menekan pemanasan global. Paragraf ini sama sekali tidak mendukung tema yang dibahas. Seharusnya penulis mengangkat perumusan etika global untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana mempererat rasa persaudaraan, kebersamaan dan silaturahim.   

Catatan khusus:

1.      Layar hanyalah perangkat untuk memvisualisasikan proses yang terjadi pada CPU, kalau layar rusak, masih bisa menggunakan layar lainnya.
2.      Akses facebook tidak tergantung pada 1 layar atau satu perangkat, di manapun bisa akses facebook, karena segala datanya ada pada server induk Facebook bukan pada perangkat yang kita miliki.
3.      Sebaiknya penulis menyertakan data statistik atau persentase tingkat ketergantungan terhadap perangkat teknologi, misal hasil survey terhadap nemophobia (sindrom takut kehilangan ponsel).
4.      Beberapa kata seperti: silturrahmi, sekrang, membebskan, mislnya, kekelurgaanterjadi kekurangtelitian dalam menulis.
5.      Penulisan kata depan “di” pada kata: dikantor, disana, seharusnya dipisahkan karena sebagai penunjuk kata tempat.
6.      Penulisan kata “di ibaratkan” seharusnya disatukan menjadi diibaratkan.


[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]