Selamat Datang di Blog Korps Sukarela Palang Merah Indonesia Unit Institut Koperasi Indonesia (KSR PMI Unit IKOPIN)

Kamis, 18 November 2010

Foto: Saat Lahar Merapi Menyapu Lapangan Golf


Citra satelit menunjukkan bekas sapuan gas, lahar, dan abu panas di sebuah padang golf.
KAMIS, 18 NOVEMBER 2010, 08:45 WIB
Elin Yunita Kristanti

Sebuah foto satelit yang diambil DigitalGlobe pada Kamis 11 November 2010 menunjukkan adanya bekas sapuan gas, lahar, dan abu panas Merapi di tempat latihan golf. Aliran piroklastik Merapi meninggalkan 'bekas luka' berwarna hitam. 

Sejak meletus kali pertama pada Selasa 26 Oktober 2010, Merapi telah menewaskan ratusan jiwa dan memaksa ratusan ribu orang menyingkir ke pengungsian. 

Merapi juga memuntahkan lebih dari 140 juta meter kubik material, termasuk abu vulkanik yang melapisi seluruh lerengnya dengan abu, juga mengganggu penerbangan. 

DigitalGlobe menjalankan satelit komersil yang mengumpulkan data geospasial di ketinggian 450-770 kilometer di atas Bumi. 

Sementara, Badan Antariksa AS (NASA) memiliki foto terbaru Merapi yang diambil pada Senin 15 November 2010. 

Foto ini diambil oleh instrumen Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer (ASTER) pada Satelit Terra milik NASA. 

Foto didominasi warna merah tua ini menunjukkan bahaya aliran priroklastik Merapi. Longsoran berupa gas panas, debu, dan batuan membara meluncur dengan cepat. Bahkan mencapai kecepatan lebih dari 150 kilometer per jam.

Aliran piroklastik ini biasanya mengikuti medan tertentu, namun bisa menyebar ke area yang lebih luas.

Gambar dari instrumen ASTER pada Satelit Terra NASA menunjukkan aliran piroklastik yang besar di sepanjang Sungai Gendol, di Selatan Merapi.

Deposit lahar mengalir ke Sungai Gendol. Sementara di utara tempat latihan golf, fitur merah menggambarkan daerah terdampak aliran piroklastik yang menyebabkan kehancuran nyaris total.

Sementara, wilayah abu-abu gelap, sebagian besar pohon tumbang dan tanah dilapisi abu dan batu.

Foto aliran piroklastik Merapi 15 November 2010

(NewScientist, NASA)
• VIVAnews

Minggu, 14 November 2010

BNPB: Pengungsi Jangan Buru-buru Pulang ke Rumahnya

Ilyas Istianur - detikNews



(foto: Bagus Kurniawan/detikcom)

    Jakarta - Jarak zona aman Merapi di 3 kabupaten direvisi. Revisi ini membuat banyak warga meninggalkan barak pengungsian untuk kembali ke rumahnya, termasuk para pengungsi di Sleman, Yogyakarta. Padahal jarak aman untuk kabupaten ini masih tetap radius 20 Km.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Media Center menjelaskan bahwa status Merapi saat ini masih awas. Penurunan jarak aman hanya bagian dari informasi terkait aktifitas Merapi yang beberapa hari ini relatif stabil, walaupun sesekali mengeluarkan guguran material dan awan panas.

“Merapi itu masih berbahaya, statusnya saja masih Awas, jadi para pengungsi dimohon untuk tetap tinggal di tempat pengungsian”, ujar kordinator Media Center Tanggap Darurat Bencana Merapi, Sukosono saat dihubungi detikcom, Minggu (14/11/2010).

Sampai saat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana belum mengeluarkan surat resmi terkait penurunan jarak aman dan status Gunung Merapi.

“Tidak ada surat resmi dari BNPB mengenai penurunan jarak aman dan status merapi”, kata Suko, sapaan akrab Sukosono.

BNPB dan TNI-Polri hari ini sudah mengirim tim untuk melakukan survei di beberapa wilayah lereng Merapi. Survei ini sebagai dasar dikeluarkannya surat penentuan status Merapi.

“Tadi ketua BNPB sudah meminta TNI-Polri untuk melakukan survei lokasi di sekitar Merapi. Hasil survei ini yang nanti akan menentukan keputusan BNPB untuk mengeluarkan surat resmi mengenai status Merapi," terangnya.

Rencananya, survei ini akan diselesaikan dalam 1x24 jam. Apabila sesuai rencana, hasilnya sudah bisa diumumkan Senin besok kepada masyarakat melalui Media Center yang berada di Lantai 1 Gedung Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan(PIP2B), Jl Kenari 14A, Yogyakarta.

(gun/gun)