Selamat Datang di Blog Korps Sukarela Palang Merah Indonesia Unit Institut Koperasi Indonesia (KSR PMI Unit IKOPIN)

Kamis, 02 Maret 2017

pentingnya menjaga perawatan tubuh yang sehat


Dua nikmat Tuhan yang diberikan kepada kita yang sering kita lupa, yaitu nikmat kesehatan dan waktu. Kesehatan adalah nikmat yang sangat besar, meskipun kita banyak uang tetapi kondisi kita sakit maka uang tersebut akan digunakan untuk pengobatan, betul bukan? Di sini kita belajar bahwa kesehatan merupakan aset yang sangat besar.Nah dalam artikel ini saya memberikan beberapa cara mudah untuk bagaimana menjaga kesehatan tubuh, diantaranya:

Keluarga sehat dengan komsumsi makanan sehat

Cukup istirahat setiap hari, merupakan salah satu faktor untuk menjaga sistem kekebalan tubuh Anda.
Dalam tubuh yang sehat terdapat pikiran yang tenang dan sehat. Jadi cobalah untuk selalu berpikir positif untuk semua masalah yang dihadapi.
Berolahraga secara teratur. Setiap pagi, usahakan selalu melakukan olahraga secara teratur. Hal ini bertujuan untuk menjaga kondisi tubuh tetap fit dan sehat.
Menjaga kebersihan makanan. Selalu pastikan bahwa makanan yang Anda makan sudah higienis atau telah dicuci dengan bersih atau dimasak dengan matang.
Mengontrol pola makanan. Makan dengan porsi yang wajar jangan berlebihan. Dalam ketakutan tubuh Anda akan kelebihan berat badan dan pada risiko penyakit yang berhubungan dengan kelebihan berat badan atau obesitas.
Makanan berserat. Isi makanan berserat setiap hari. Makanan berserat adalah apel, wortel dan kacang-kacangan. Fungsi ini makanan berserat yang menjaga tubuh dari bakteri.
Isi kebutuhan vitamin D. Karena vitamin D bekerja untuk merangsang sel-sel kekebalan tubuh untuk memblokir virus dan bakteri.
dan yang paling penting perbanyaklah air minum yang berguna sebagai syarat penetral tubuh dan menjaga kita dari dehidrasi berlebihan.
selalu makan buah-buahan yang mengandung vitamin, khususnya vitamin C untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Senin, 28 November 2016

Penundaan Kepuasan

Belum lama berselang, seorang perempuan berusia tiga puluh tahun yang berprofesi sebagai analis finansial, mengeluh kepada saya selama berbulan-bulan tentang kecenderungannya untuk selalu menunda pekerjaan. Kami telah mempelajari perasaannya terhadap karyawannya dan secara khusus kepada orangtuanya. Kami juga meneliti sikapnya terhadap pekerjaan dan keberhasilan; serta bagaimana hal itu berkaitan dengan perkawinannya, karakter seksualnya, keinginannya untuk bersaing dengan suaminya, dan ketakutannya terhadap persaingan semacam itu. Namun, terlepas dari semua usaha psikoanalitis yang menyeluruh, dia terus saja menunda-nunda pekerjaan seperti biasanya. Akhirnya, suatu hari, dia ditantang untuk melihat pada sesuatu yang nyata.
“Apakah Anda suka kue tar?” Tanya saya.
            Dia menjawab bahwa dia tidak suka.
            “Bagian manakah dari kue tar yang lebih Anda sukai? Kuenya atau lapisan gulanya?”
            “Oh, lapisan gulanya!” Jawab wanita itu dengan antusian.
         “Dan, bagaimana Anda memakan sepotong kue?” Saya bertanya, sambil merasa bahwa saya menjadi psikiater paling tolol yang pernah ada.
            “Saya memakan lapisan gulanya dulu, tentu saja” Jawabnya.
         Dari kebiasaannya memakan kue itu, maka kami terus meneliti kebiasaan kerjanya. Seperti telah diduga, ditemukan bahwa untuk pekerjaan harian apa pun yang diberikan kepadanya, dia akan mendedikasikan satu jam pertamanya untuk mengerjakan separuh pekerjaannya yang lebih menyenangkan dan enam jam selanjutnya untuk mengerjakan sisa pekerjaan yang dianggapnya tidak menyenangkan. Saya mengatakan bahwa apabila dia mendorong dirinya untuk mengerjakan bagian pekerjaan yang tidak dia sukai selama satu jam pertama, maka dia akan bebas menikmati enam jam berikutnya. Saya berkata bahwa saya lebih memilih satu jam rasa sakit yang diikuti dengan enam jam rasa senang, daripada satu jam rasa senang yang diikuti dengan enam jam rasa sakit. Dia setuju, dan, karenanya pada dasarnya dia merupakan orang yang berkeinginan kuat, maka dia pun bertekad untuk tidak lagi menunda-nunda pekerjaan.
Penundaan kepuasan adalah proses pembuatan jadwal rasa sakit dan rasa senang dalam kehidupan dengan cara tertentu. Yaitu, untuk meningkatkan kesenangan dengan cara menghadapi rasa sakit terlebih dulu. Ini adalah satu-satunya cara yang masuk akal untuk hidup.
        Proses pembuatan jadwal ini sebenarnya telah dipelajari oleh sebagian besar anak di awal kehidupannya, terkadang di usia lima tahun. Sebagai contoh, terkadang anak balita saat bermain akan mempersilakan kepada temannya terlebih dahulu untuk mendapat giliran sehingga anak tersebut dapat menikmati gilirannya nanti. Pada usia enam tahun, anak bisa mulai menyantap kue tarnya dulu dan lapisan gulanya belakangan. Di seluruh sekolah dasar, kapasitas awal untuk menunda kepuasan dilatih setiap hari, terutama lewat pemberian pekerjaan rumah. Di usia dua belas tahun, sejumlah anak telah mampu duduk tenang pada suatu acara tanpa disuruh oleh orangtuanya dan menyelesaikan pekerjaan rumah mereka sebelum menonton televisi. Di usia lima belas atau enam belas tahun, perilaku seperti ini dianggap sebagai hal yang normal.
          Bagaimanapun, menjadi jelas bagi para guru mereka bahwa pada usia tersebut banyak remaja yang belum memiliki norma ini. Walaupun banyak yang memiliki kapasitas yang telah berkembang dengan baik untuk menunda kepuasan, sejumlah anak berusia lima belas atau enam belas tahun tampaknya sulit mengembangkan kapasitas ini sama sekali. Malahan, beberapa anak tampak benar-benar tidak memiliki kapasitas ini. Sebagian besar dari mereka adalah siswa yang bermasalah. Terlepas dari intelegensi yang dimiliki, peringkat mereka yang rendah semata-mata terjadi karena tidak adanya usaha dan rasa malas. Mereka membolos dari satu mata pelajaran hanya karena keinginan sesaat. Mereka bergerak cepat mengikuti kata hati, dan itu menjalar ke kehidupan sosial mereka juga.
          Para remaja ini menolak usaha apa pun untuk mencampuri gaya hidup mereka yang bersifat impulsif. Dan, bahkan ketika penolakan ini dapat diatasi dengan kehangatan dan keterbukaan terapis, serta sikap yang tidak menghakimi. Maka sifat impulsif mereka sering menjadi sangat tak terkendali. Hal itu menhalangi partisipasi mereka dalam proses psikoterapi dengan cara apa pun. Mereka tidak memenuhi janji pertemuan. Mereka menhindari semua isu penting dan menyakitkan.
       Mengapa ini terjadi? mengapa banyak orang mengembangkan kapasitas untuk menunda kepuasan dan ada sejumlah orang yang gagal mengembangkan kapasitas ini, bahkan sering kali untuk selamanya? Jawabannya secara ilmiah benar-benar tidak diketahui. Peran faktor genetis tidak jelas. Variabel tidak bisa dikontrol dengan tepat untuk menjadi bukti ilmiah. Akan tetapi, sebagian besar tanda menunjuk - dengan agak pasti - kualitas pengasuhan sebagai faktor penentu.

               Dikutip dari “The Road Less Travelled”   


Penundaan Kepuasan

Belum lama berselang, seorang perempuan berusia tiga puluh tahun yang berprofesi sebagai analis finansial, mengeluh kepada saya selama berbulan-bulan tentang kecenderungannya untuk selalu menunda pekerjaan. Kami telah mempelajari perasaannya terhadap karyawannya dan secara khusus kepada orangtuanya. Kami juga meneliti sikapnya terhadap pekerjaan dan keberhasilan; serta bagaimana hal itu berkaitan dengan perkawinannya, karakter seksualnya, keinginannya untuk bersaing dengan suaminya, dan ketakutannya terhadap persaingan semacam itu. Namun, terlepas dari semua usaha psikoanalitis yang menyeluruh, dia terus saja menunda-nunda pekerjaan seperti biasanya. Akhirnya, suatu hari, dia ditantang untuk melihat pada sesuatu yang nyata.
“Apakah Anda suka kue tar?” Tanya saya.
            Dia menjawab bahwa dia tidak suka.
            “Bagian manakah dari kue tar yang lebih Anda sukai? Kuenya atau lapisan gulanya?”
            “Oh, lapisan gulanya!” Jawab wanita itu dengan antusian.
         “Dan, bagaimana Anda memakan sepotong kue?” Saya bertanya, sambil merasa bahwa saya menjadi psikiater paling tolol yang pernah ada.
            “Saya memakan lapisan gulanya dulu, tentu saja” Jawabnya.
         Dari kebiasaannya memakan kue itu, maka kami terus meneliti kebiasaan kerjanya. Seperti telah diduga, ditemukan bahwa untuk pekerjaan harian apa pun yang diberikan kepadanya, dia akan mendedikasikan satu jam pertamanya untuk mengerjakan separuh pekerjaannya yang lebih menyenangkan dan enam jam selanjutnya untuk mengerjakan sisa pekerjaan yang dianggapnya tidak menyenangkan. Saya mengatakan bahwa apabila dia mendorong dirinya untuk mengerjakan bagian pekerjaan yang tidak dia sukai selama satu jam pertama, maka dia akan bebas menikmati enam jam berikutnya. Saya berkata bahwa saya lebih memilih satu jam rasa sakit yang diikuti dengan enam jam rasa senang, daripada satu jam rasa senang yang diikuti dengan enam jam rasa sakit. Dia setuju, dan, karenanya pada dasarnya dia merupakan orang yang berkeinginan kuat, maka dia pun bertekad untuk tidak lagi menunda-nunda pekerjaan.
Penundaan kepuasan adalah proses pembuatan jadwal rasa sakit dan rasa senang dalam kehidupan dengan cara tertentu. Yaitu, untuk meningkatkan kesenangan dengan cara menghadapi rasa sakit terlebih dulu. Ini adalah satu-satunya cara yang masuk akal untuk hidup.
        Proses pembuatan jadwal ini sebenarnya telah dipelajari oleh sebagian besar anak di awal kehidupannya, terkadang di usia lima tahun. Sebagai contoh, terkadang anak balita saat bermain akan mempersilakan kepada temannya terlebih dahulu untuk mendapat giliran sehingga anak tersebut dapat menikmati gilirannya nanti. Pada usia enam tahun, anak bisa mulai menyantap kue tarnya dulu dan lapisan gulanya belakangan. Di seluruh sekolah dasar, kapasitas awal untuk menunda kepuasan dilatih setiap hari, terutama lewat pemberian pekerjaan rumah. Di usia dua belas tahun, sejumlah anak telah mampu duduk tenang pada suatu acara tanpa disuruh oleh orangtuanya dan menyelesaikan pekerjaan rumah mereka sebelum menonton televisi. Di usia lima belas atau enam belas tahun, perilaku seperti ini dianggap sebagai hal yang normal.
          Bagaimanapun, menjadi jelas bagi para guru mereka bahwa pada usia tersebut banyak remaja yang belum memiliki norma ini. Walaupun banyak yang memiliki kapasitas yang telah berkembang dengan baik untuk menunda kepuasan, sejumlah anak berusia lima belas atau enam belas tahun tampaknya sulit mengembangkan kapasitas ini sama sekali. Malahan, beberapa anak tampak benar-benar tidak memiliki kapasitas ini. Sebagian besar dari mereka adalah siswa yang bermasalah. Terlepas dari intelegensi yang dimiliki, peringkat mereka yang rendah semata-mata terjadi karena tidak adanya usaha dan rasa malas. Mereka membolos dari satu mata pelajaran hanya karena keinginan sesaat. Mereka bergerak cepat mengikuti kata hati, dan itu menjalar ke kehidupan sosial mereka juga.
          Para remaja ini menolak usaha apa pun untuk mencampuri gaya hidup mereka yang bersifat impulsif. Dan, bahkan ketika penolakan ini dapat diatasi dengan kehangatan dan keterbukaan terapis, serta sikap yang tidak menghakimi. Maka sifat impulsif mereka sering menjadi sangat tak terkendali. Hal itu menhalangi partisipasi mereka dalam proses psikoterapi dengan cara apa pun. Mereka tidak memenuhi janji pertemuan. Mereka menhindari semua isu penting dan menyakitkan.
       Mengapa ini terjadi? mengapa banyak orang mengembangkan kapasitas untuk menunda kepuasan dan ada sejumlah orang yang gagal mengembangkan kapasitas ini, bahkan sering kali untuk selamanya? Jawabannya secara ilmiah benar-benar tidak diketahui. Peran faktor genetis tidak jelas. Variabel tidak bisa dikontrol dengan tepat untuk menjadi bukti ilmiah. Akan tetapi, sebagian besar tanda menunjuk - dengan agak pasti - kualitas pengasuhan sebagai faktor penentu.

               Dikutip dari “The Road Less Travelled”   


Rabu, 23 November 2016

Inspirasi dalam tragedi

Ketika melihat dari jauh, kita berpikir bencana adalah tragedi mengerikan. Namun ketika anda berada di dekatnya, banyak hal dalam tragedi ini yang memuat berbagai kejadian yang sungguh indah dan menyentuh.
Ada kisah mengenai bencana kelaparan besar di Afrika. Banyak umat Buddha menjadi relawan untuk membantu meringankan bencana ini. Ketika kembali, mereka menceritakan pengalamannya pada seorang biksu. Biksu itu berkomentar, “pasti di sana kondisinya buruk sekali”, berhubung biksu ini sudah melihat gambar anak-anak yang kelaparan, lalu orang-orang, pria, wanita, dan anak-anak dengan perut membusung dan lalat beterbangan mengelilingi mereka. Pasti mengenaskan sekali di sana.
       “Yah, kami benar-benar di ambang batas” dan gadis relawan ini menceritakan mengenai tugasnya di kamp pengungsi. Kamp ini dikelilingi kawat berduri di luat, dan mereka hanya memiliki makanan, air, dan obat-obatan yang terbatas serta sama sekali tidak cukup untuk setiap orang. Mereka tahu bahwa jika mereka membagi-bagikannya ke semua orang, itu hanya akan mendistribusikan pasokan secara tipis, namun tak akan membantu sama sekali. Mereka menyadari bahwa satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan adalah membatasi jumlah pengungsi yang mereka tolong, dan itulah jumlah maksimum orang yang diizinkan memasuki kamp pengungsi.
Nah, gadis asal Inggris ini diberi tugas untuk pergi ke luar kamp, melintasi kawat berduri setiap pagi membawa sebuah angka yang diberikan oleh orang yang berwenang. Angka itu adalah jumlah orang yang boleh dibawa masuk ke dalam kamp, dengan pengetahuan bahwa orang-orang yang berada di luar sana mungkin akan meninggal dalam waktu 24 jam berikutnya jika tidak mendapat bantuan.
Biksu ini berkata kepada gadis itu, “pasti parah sekali! Anda sesungguhnya memilih siapa yang akan mati dan siapa yang akan hidup. Bagaimana Anda bisa bertahan dan menanggung semua itu?”
Lalu ia mengatakan bahwa itu adalah salah satu pengalaman paling menginspirasi dalam hidupnya. Para pengungsi yang biasanya datang dari malam sebelumnya itu tidak berkata, “Bawa aku masuk.” Mereka tidak berbondong-bondong memaksa masuk di pintu gerbang atau berdesakan. Mereka berkata, “Bawalah perempuan yang itu, ia punya anak yang masih kecil. Jangan masukkan aku.” Itulah yang sungguh menggugah hati! Bagaimana bahkan ketika orang-orang dihadapkan dengan kematian yang pasti, masih bisa begitu tidak mementingkan diri sendiri dan berwelas asih.
Hal ini menunjukkan padanya apa yang bisa dilakukan umat manusia. Para pengungsi ini tidak takut mati, sebab mereka menemukan bahwa kewelasan dan kebaikan jauh lebih penting. Jadi cara mereka menyikapi itu menjadi salah satu hal yang paling menginspirasi dalam hidup relawan itu. Bahkan dalam tragedi seperti itu, ia melihat keindahan dan semangat manusia yang betul-betul mengunggahnya.
Akhir yang menggigit dari kisah itu adalah ketika biksu tadi bertanya, “Jadi, apa yang Anda kerjakan sekarang?” Ia berkata, “Saya kembali bekerja, di kantor pajak.” “Bagaimana rasanya di sana?” tanya si biksu. “Nah, kerja di sana baru benar-benar membuat tertekan!” kata si gadis.
Ia lebih memilih berada di luar sana, bekerja sebagai relawan, ketimbang di kantor pajak, sebab di sana ia melihat keindahan, kewelasan, dan kebaikan yang begitu luar biasa. Namun di kantor pajak yang aman dan nyaman, yang bisa ia lihat hanyalah keluhan dan pertengkaran remeh, kecemburuan sesama pegawai, dan segala hal buruk ini.
Kisah ini mengingatkan saya bahwa ketika ada tragedi, bukan peristiwa itu yang tragis, namun bagaimana orang menyikapinyalah yang membuat hal itu menjadi musibah atau berkah.


               Dikutip dari “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3”    

Kamis, 10 November 2016

Apel Pagi


                Inter Arma Caritas!
              “Lapor, Apel pagi siap dilaksanakan!” Ucap Joni, sang pemimpin apel pada acara apel pagi tanggal 9 November 2016 pukul 7:30. Apel pagi kali ini bermaksud untuk melihat kesiapan anggota KSR untuk acara DIKLAT calon anggota yang akan diselenggarakan pada tanggal 16-20 November 2016. Apel kali ini juga dilakukan untuk lebih memantapkan kekompakan dalam hal keseragaman dan konsistensi. Karena kita ada di bawah satu lambang, maka kita juga harus terlihat satu dan padu di mata orang lain.
             Komandan KSR PMI unit IKOPIN yaitu Nur Ikhsan Prawiro memberi amanat pada dua hal penting yaitu orientasi KSR IKOPIN dan dimensi kualitas. Pertama, orientasi KSR IKOPIN. KSR IKOPIN sudah menapaki jalan kemanusiaan sedari dulu. KSR IKOPIN pernah merasakan masa kejayaannya ketika KSR IKOPIN terkenal karena Lomba Lintas Medannya. Sekarang KSR IKOPIN sedikit demi sedikit mulai dikenal lagi di lingkungan Sumedang, Bandung hingga se-Jawa Barat. Kita KSR IKOPIN akan kembali merasakan kejayaannya dalam waktu beberapa tahun lagi.
               Yang kedua, adalah dimensi kualitas. Dari beberapa dimensi kualitas, ditekankan dua bagian yaitu keseragaman dan konsistensi. Sesuatu yang berkualitas mempunyai keseragaman dan konsistensi. Organisasi yang berkualitas tentunya memiliki kedua hal ini. Kedua hal ini harus dimasukkan ke dalam setiap pemikiran, perkataan, dan perbuatan yang dilakukan oleh setiap anggota KSR IKOPIN.
                “Lapor, Apel pagi siap dibubarkan!”
                “Bubarkan!”

Senin, 24 Oktober 2016

Demo Outdoor



Siamo Tutti Fratelli! Siap KSR!

                Itulah kata-kata yang menyemangati kita yang akan keluar setiap kita memulai sesuatu dan mengakhiri pertemuan. Termasuk juga ketika para perempuan tangguh KSR ini melakukan Rappelling di acara demo UKM. Kata-kata dari bahasa italia yang memiliki arti “kita semua bersaudara”. Sebuah kata yang memberi kita semangat sekaligus mengingatkan bahwa kita semua, seluruh umat manusia adalah saurdara. Layaknya prinsip “kesamaan” yang bermakna bahwa perbedaan ras, warna kulit, dan agama bukanlah sesuatu yang penting dalam konteks untuk menjunjung tinggi rasa kemanusiaan.

 
  Rappelling ini kita peragakan kepada mahasiswa baru untuk memperkenalkan UKM KSR. Walau sudah dikenal tetep aja yang ikutnya segitu-segitu aja. Hahah.. lumayan lah, dari 500 orang bisa dapet 15 anggota. Sekitar 3% dari satu angkatan. Walau segitu tapi yang ngga aktif di awal cuman satu atau dua orang. Malah bersyukur bisa ada di KSR IKOPIN. Ngga perlu banyak ngapalin nama orang dan pada deket kaya perangko di sampul buku. Eh, sampul surat maksudnya.
                
    Demo outdoor andalan kita ya ini. Rapelling, simulasi vertical rescue. Walaupun masangin perlengkapannya harus pake tangga 3 pasang dan naik-naik pohon pinus terus makuin board di antara dua pohon pinus sampe paku 10cm masuk habis. Duh duh duh, ya gemana lagi sih ya. Soalnya kalau mau simulasi kebakaran takut dimarahin sama yang punya gedungnya. Kalau mau simulasi water rescue masa mahasiswa baru harus ngeliat raft di atas ember. Kan malu yah. Ya udah aja kita vertical rescue lagi seperti tahun-tahun sebelumnya.

       Kalau kalian mau lihat secara langsung aksi kita ngelakuin vertical rescue, dateng aja ya di demo UKM IKOPIN tahun 2017. Hehehe…


UNC Time



       UnC time, yaaayyy… inilah yang terjadi di sekretariat IKOPIN kalau ada yang namanya UKM and Community time atau bisa disingkat UnC time. UnC time itu ya dimulai dari perkenalan, sapa-sapa calon adik, games, dan berakhir makan-makan. Dari tahun ke tahun ya begitulah UnC time di KSR IKOPIN, anak-anaknya bahagia kalau udah UnC time. Bukan berarti bahagia di UnC time aja, tapi hampir di setiap acara. Untuk kita UnC time itu seperti waktunya bersyukur, karena di hari itu kita ketemu sama calon adik-adik kami yang baru. Ketemu wajah baru kan enak, seger dan ngga bosenin. Hehehe..
       Sebenarnya UnC time itu diadakan oleh BEM di sela-sela acara pengenalan kampus. Jadi kita ngga full seharian sama calon anggota. Ngga full di sekre maksudnya, kalau di kampus sih kita selalu deket sama mahasiswa baru. Biasa, ngeceng-ngeceng gitu kan kalau ada mahasiswa baru. Apalagi kita anak KSR, di mana ada mahasiswa baru lagi kegiatan pengenalan kampus ya kita ikutin. UnC time ini diadakan dengan tujuan mengenalkan UKM dan komunitas agar lebih dekat dengan mahasiswa baru. Kalau mengenalkan dengan jauh namanya demo, bahaya kalau demo deket-deket. Namanya juga mengenalkan kegiatan dengan mahasiswa baru, ya pastinya mengajak mahasiswa supaya di masa kuliah mereka jadi aktif berorganisasi. Ngga kuliah pulang kuliah pulang.
       Aktif berorganisasi itu bagus loh. Umumnya sih dapet pengalaman dan teman, ini kelebihan anak organisasi yang sekedar ikut organisasi aja. Kalau kita ikutin organisasi itu lebih dalam lagi, kita bakalan dapet lebih banyak hal. Softskill pasti terasah buat anak yang betah di organisasinya. Karena KSR itu bukan organisasi sebatas di kampus. KSR punya banyak hal, Salah satunya tertib administrasi. Tertib administrasi itu rasanya organisasi banget deh. Kalau ngaku anak aktif organisasi belum tau tertib administrasi sayang banget. Tertib administrasi itu membantu organisasi buat punya data dan fakta. Akademisi kan memang harus begitu, berbicara data dan fakta. Ngga bicara ngawur dan ngga berstruktur. Kalau masih ngawur dan ngga berstruktur, akademisi apa ya? Entahlah…
       Saya sendiri yang sudah ikut berorganisasi hingga tahun keempat bukannya malah semakin jenuh karena sudah pernah dicobain semuanya tapi malah semakin semangat karena ternyata masih banyak hal yang belum kita cobain di organisasi. Ya maklum, organisasi KSR memang luas, kita bagian dari PMI dan PMI bukan sekedar organisasi swasta nasional, melainkan bagian dari organisasi internasional. Hampir di setiap negara di dunia ada organisasi Palang Merah atau Bulan Sabit Merah. Jadi kita bisa punya relasi sampe ke luar negeri. Keanggotaan KSR pun seumur hidup, seiring dengan rasa kemanusiaan kita.
       Eh maaf jadi jauh dari topik UnC time. Hahaha.. intinya sih kalau UnC time itu waktunya UKM dan komunitas mendekati mahasiswa baru supaya aktif berorganisasi. Sekian yaa pembahasan acara kita kali ini. See you…

Senin, 24 September 2012

”Krisis Kemanusiaan dan Kemajuan Ilmu”


“Kemajuan teknik tidak saja membuktikan kekuatan serta daya manusia untuk menguasai alam, kemudian teknik itu tidak saja membebaskan manusia, tetapi juga memperlemah serta memperbudaknya, kemajuan itu memekanisasikan manusia dalam menimbulkan gambaran serta persamaan manusia dengan mesin.” (Nicolas Berdyev).

Kemajuan teknologi yang awalnya bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia, namun kenyataannya teknologi telah menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi kehidupan manusia. Ketika urusan yang dikelola manusia itu semkin mudah diselesaikan, maka muncul kesepian dan keterasingan baru yaitu lunturnya rasa solidaritas, kebersamaan dansilturrahmi. Misalnya, penemuan komputer, handphone dan sekrang tengah 
maraknya dunia internet yang mengakibatkan kita terlena dengan dunia layar. Hingga layar dijadikan teman setia, bahkan kita lebih mementingkan layar dari pada urusan sosial misalnya.

Bayangkan saja hampir setiap waktu, bahkan bangun tidur langsung menekan remot televisi untuk meliht layar, pergi ke kantor pencet tombol Hp masih melihat layar dan sampai di kantor kembali melihat layar komputer, sehingg hidup dipenuhi dengan dunia layar. Ditambah lagi sekarang tengah maraknya dunia internet, dunia maya seperti Facebookyang tengah berkembang di dunia maya. Akibatnya hubungan antar sesama jadi renggang akibat dari satu sama lain asyik dengan layarnya masing-masing.

Ternyata teknologi layar mampu membius manusia untuk tunduk pada layar dan mengabaikan yang lain. Jika manusia tidak sadar akan hal ini, maka dia akan kesepian dan kehilangan sesuatu yang amat penting dalam dirinya yaitu kebersamaan, hubungan kekelurgaan dan sosial yang hangat secara langsung. Seperti halnya dengan dunia facebook yang sekarang merambah luas, yang katanya untuk menjalin persahabatan, mencari teman dan sebagainya. Tapi itu hanyalah dunia maya, dimana kita hanya berhadapan dengan sebuah layar, tidak langsung dengan orangnya sehingga jika layar itu rusak orang-orang akan merasa sangat kehilangan.

Jelas bahwa di satu sisi teknologi menjadi penjara bagi manusia, namun pada sisi lain teknologi itupun dipenjara oleh kepentingan manusiaTeknologi layar telah jelas memenjarakan manusia karena dia tidak akan bekerja jika tidak ada komputer ataupun handphone. Namun, pada saat yang bersamaan manusia memamfaatkan layar untuk ambisinya. Maka tidak heran jika kemudian layar televisi yang luasnya hanya beberapa inci disesaki oleh berbagai program. Ibarat tong sampah, semua ada disana pasar, politik, ekonomi, flora, fauna dan sebagainya masuk televisi. Para penguasa televisi memamfaatkan betul kebutuhan  masyarakat, sehingga dia gunakan untuk mencari untung sebanyak-banyaknya.   

Bius teknologi pada manusia, ibarat orang yang pertama kali tinggal di dekat kandang kambing. Pada minggu pertama, tidurnya akan terasa sulit karena bau yang menyengat. Minggu kedua sudah agak bisa menyesuaikan diri dengan bau itu dan minggu-minggu selanjutnya akan terbiasa. Teknologi yang sedang melanda kehidupan sekarang juga di ibaratkan dengan orang yang bertempat tinggal di samping kandang kambing itu, saking asyiknya ia tidak sadar teknologi membuat ia terpinggirkan. Dia hanya berimajinasi sesuai dengan apa yang ditayangkan televisi, apalagi yang menonton itu anak-anak. Mislnya penayangan acara Smack Down, film-film kartun seperti Sinchan, Superman, yang dapat merusak moral anak-anak, karena mereka dapat saja menirukannya.

Krisis kemanusiaan tidak hanya terjadi akibat kemajuan teknologi, tetapi juga akibat kecenderungan, ideologi dan gagasan yang tidak utuh. Umat manusia sekarang sangat tergantung dan dimanjakan oleh teknologi, ketergantungan yang terus menerus menjadikan dia terlena dari eksistensi dirinya yang bebas dan kreatif. Secara tak sadar dia telah dipenjara oleh teknologi itu sendiri. Misalnya teknologi layar seperti komputer rusak, maka dia sangat repot karena semua urusan ada disana, dari agenda harian sampai proposal proyek.

Setelah ditemukan kemajuan teknologi yang begitu hebat, ternyata tanpa disadari teknologi itupun memeranjakan manusia, artinya penjara manusia tidak berkurang dengan kemjuan teknologi. Pada konteks inilah manusia perlu disadarkan, bahwa teknologi bukan tujuan tapi sekedar sarana untuk memudahkan urusan.

Jika kita tidak mau kehilangan eksistensi kemanusiaan dan terhindar dari krisis kemanusiaan, maka kita harus berjuang untuk membebskan diri dari kungkungan teknologi kembali pada eksistensi awal yaitu manusia yang kreatif dan dinamis. Penyadaran terhadap bahaya yang begitu besar bagi kemanusiaan perlu terus dikumandangkan, terutama kepada penguasa yang memiliki otoritas dalam mengambil kebijakan. Etika global perlu dirumuskan bersama karenakrisis akibat teknologi hanya berdampak untuk negara tertentu, tetapi mencakup semua negara. Pemanasan global akibat asap buangan dari pabrik dan kendaraan mengakibatkan es di Kutub Utara mencair sehingga akibatnya daratan semakin menyempit. Tempat tinggal manusia semakin menyempit, padahal jumlah penduduk semakin meningkat.Pada konteks ini, akan muncul berbagai persoalan dan krisis kemanusiaan itu sendiri.        

ULASAN FAM INDONESIA:

Sebuah artikel yang cukup menarik dengan mengambil judul “Krisis Kemanusiaan dan Kemajuan Ilmu” membawa kita untuk melek pada keadaan kita saat ini. Tetapi, kalau melihat isinya lebih mengarah kepada kemajuan ilmu dan krisis kemanusiaan. Jadi bukan bertolak dari krisis kemanusiaan mendorong terjadinya kemajuan ilmu tetapi karena kemajuan ilmu berdampak pada krisis kemanusiaan.

Penulis berangkat dari kutipan Nicolas Berdyev yang menyoroti dampak kemajuan teknologi terhadap kemanusiaan. Diikuti pandangan penulis pada paragraf kedua yang menyajikan dampak perkembangan teknologi yang menyebabkan ketergantungan manusia terhadap dunia layar, sehingga menyebabkan lunturnya solidaritas, kebersamaan dan silaturahim. Dan kita sekarang ”dianggap” lebih mementingkan dunia layar daripada urusan sosial.

Paragraf ketiga dan keempat, penulis mulai masuk pada bukti dengan mengambil sampelfacebook yang dianggap telah mengakibatkan hubungan antar sesama menjadi renggang hanya terbatas di dunia maya. Kenyataan yang ada malah sebaliknya, dengan HP dan facebook, malah membuat hubungan silaturahim menjadi semakin mudah. Kalau tanpa perangkat teknologi, kita akan bersilaturahim dengan saudara yang jauh membutuhkan waktu lama dan biaya yang besar, maka dengan teknologi sekarang bisa dilakukan dengan cepat dan hemat. Sementara untuk bertemu langsung, kalau tanpa HP atau facebook yang kita tuju bisa saja tidak ada di tempat karena suatu urusan. Tetapi dengan HP atau facebook kita bisa janji untuk bertemu pada saat yang ditentukan.

Jadi kemajuan teknologi tidak serta merta mengalihkan hubungan sosial ke dunia maya, malah sebaliknya hubungan sosial terjadi di alam nyata dan dunia maya.

Masuk pada paragraf kelima dan keenam, mulai terjadi inkonsistensi. Kalau pada awalnya penulis bersikeras pada keterpenjaraan manusia oleh dunia layar, pada paragraf kelima menyatakan bahwa layar juga dipenjarakan oleh manusia dengan berbagai hal yang bisa dilakukan manusia. Artinya, bukan kemajuan teknologi yang memenjarakan manusia, tetapi sikap manusia dalam memanfaatkan kemajuan teknologi yang menyebabkan dirinya terpenjara.

Paragraf terakhir yang merupakan kesimpulan pendapat penulis malah keluar dari konteks tema yang dibahasnya. Kalau di awal, penulis berangkat dari dampak kemajuan teknologi bagi hubungan sosial, maka di akhir menekankan perlunya dirumuskan etika global yang berhubungan dengan upaya menekan pemanasan global. Paragraf ini sama sekali tidak mendukung tema yang dibahas. Seharusnya penulis mengangkat perumusan etika global untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana mempererat rasa persaudaraan, kebersamaan dan silaturahim.   

Catatan khusus:

1.      Layar hanyalah perangkat untuk memvisualisasikan proses yang terjadi pada CPU, kalau layar rusak, masih bisa menggunakan layar lainnya.
2.      Akses facebook tidak tergantung pada 1 layar atau satu perangkat, di manapun bisa akses facebook, karena segala datanya ada pada server induk Facebook bukan pada perangkat yang kita miliki.
3.      Sebaiknya penulis menyertakan data statistik atau persentase tingkat ketergantungan terhadap perangkat teknologi, misal hasil survey terhadap nemophobia (sindrom takut kehilangan ponsel).
4.      Beberapa kata seperti: silturrahmi, sekrang, membebskan, mislnya, kekelurgaanterjadi kekurangtelitian dalam menulis.
5.      Penulisan kata depan “di” pada kata: dikantor, disana, seharusnya dipisahkan karena sebagai penunjuk kata tempat.
6.      Penulisan kata “di ibaratkan” seharusnya disatukan menjadi diibaratkan.


[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Rabu, 27 April 2011

Humanize Yourself


Siapa sih yang gag pernah lihat berita, bener  gag…?! Apalagi di zaman sekarang alat komunikasi dan jaringan informasi begitu menjamur di dunia khususnya di Indonesia. Dari mulai televisi, Koran, radio, HaPe, sampai  internet sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat. Dari orang tua, remaja, bahkan anak SDpun sudah akrab dengan internet. Menurut data yang diambil dari vivanews.com Indonesia merupakan salah satu pengguna facebook terbesar ke_7 di dunia di atas Australia, spanyo,, dan kolombia. Tapi kita gag ngomongi fb sekarang, Cuma sekedar berbagi informasi ajah..
Intinya, semua berita ter_update begitu mudah kita peroleh dari berbagai media yang tersedia saat ini, dari berita politik, kriminal, sosial, budaya, bahkan sampai bencana alam. Nah, ngomongin soal bencana alam sepanjang tahun 2010 dan 2011 sudah banyak sekali yang kita lihat, atau bahkan mungkin kita rasakan,

Kamis, 21 April 2011

Proker Ketua I KSR IKOPIN


 PROGRAM KERJA KETUA I KSR PMI UNIT IKOPIN DAN SEKSI-SEKSI YANG MEMBAWAHINYA (SEKSI DIKLAT, SEKSI KEANGGOTAAN, DAN SEKSI LITBANG)

1.      SEKSI PENDIDIKAN DAN LATIHAN (DIKLAT)

a.      Pendidikan dan Latihan Dasar “A” (DIKLATSAR “A”) Ke IX Angkatan XXII
DIKLATSAR “A” KSR PMI Unit IKOPIN Angkatan XXII dilaksanakan dengan melalui beberapa tahapan yaitu:

Jumat, 19 November 2010

"Menyelamatkan Sesama Seperti Candu" [Review]


Dijerumuskan bencana tsunami Aceh 2004, ia jadi kecanduan jadi relawan. Ini kesaksiannya.
JUM'AT, 12 NOVEMBER 2010, 18:38 WIB
Pipiet Tri Noorastuti

VIVAnews – Sosok Iman Surahman hampir selalu terlihat di setiap medan bencana di Tanah Air. Bermula dari bencana tsunami di Aceh, gempa bumi di Sumatra Barat, hingga letusan Gunung Merapi. Sebagai Koordinator Disaster Management Center Dompet Dhuafa, Iman harus tiba di lokasi tak lebih dari 20 jam sejak kabar muncul.
“Ini kadang tak mudah. Lokasi sulit dijangkau, bandara ditutup, tiket pesawat habis. Tapi, selama keringat belum keluar darah, saya selalu yakin masih ada jalan,” katanya.
Dan, kurang dari 12 jam sesampainya di lokasi bencana, ia harus langsung memetakan kondisi. Mulai dari menentukan titik aksi, merekrut, hingga menentukan tugas relawan. 
Buat wartawan portal berita ini, lelaki kelahiran Kuningan, Jawa Barat, 34 tahun lalu itu, punya jasa tak terlupakan. Dialah relawan yang pertama kali menemukan jasad rekan kami, Yuniawan "Wawan" Nugroho, yang tewas pada letusan pertama Merapi, 26 Oktober lalu.
Berikut petikan wawancara VIVAnews dengan suami Eri Setyowati dan ayah dari tiga anak ini.
Bagaimana awal kisah Anda terjun sebagai relawan bencana? 
Saya "terjerumus" sejak bencana tsunami di Aceh, 2004. Kebetulan waktu itu Dompet Dhuafa sedang membuka pendaftaraan relawan untuk program Sekolah Ceria. Saya diminta menjadi melatih relawan guru. Saya memang punya sekolah TK dan sanggar mendongeng di rumah. Di Aceh, saya berpetualang dari satu pengungsian ke pengungsian lain untuk mendongeng dan melakukan pendampingan anak.
Pengalaman menjadi relawan di Aceh membuat saya semakin tertantang untuk terlibat di setiap bencana. Seperti candu melihat anak menangis lalu  tersenyum. Saya beruntung sekali bisa terlibat saat tsunami Aceh. Saya bisa belajar di "fakultas" terbesar ranah bencana.
Pernah menjadi relawan di wilayah bencana mana saja? 
Di antaranya gempa Yogyakarya 2006; lumpur Sidoarjo 2006; gempa Sumatera Barat 2007 dan 2009; banjir So’e NTT 2008; kelaparan Pulau Tunda, Serang, Banten 2008; gempa Tasikmalaya 2009; banjir Pakistan 2010; dan letusan Merapi ini.
Yang paling menegangkan?
Pertama, di Dusun Penyangkak, Bengkulu Utara. Ketika itu warga menodong kepala saya dengan parang. Dusun itu terisolir. Sudah tiga hari bantuan pemerintah belum masuk. Hanya tim saya yang ada di sana dengan bantuan logistik sangat minim. Mereka marah karena bantuan saya tak banyak. Beruntung, dengan pendekatan hati mereka akhirnya paham bahwa saya bukan dewa.
Peristiwa itu justru membuat saya dan warga semakin erat dan memiliki ikatan emosional. Kasus itu juga mengajarkan saya untuk mengedepankan hati dulu sebelum logistik, agar posisi kita tak seperti gula di kandang semut.
Kedua, ketika saya dimintai tolong kawan-kawan VIVAnews.com untuk menemukan jurnalisnya yang hilang di Merapi, Yuniawan Wahyu Nugroho. Kepercayaan itu mengalahkan ketakutan saya. Saat masuk ke Kinahrejo malam itu situasinya sungguh mencekam. Api menyala di mana-mana. Saya temukan jasad Wawan di sana. Melihat kondisi dusun itu esok paginya, saya mungkin berpikir 30 kali memasuki lokasi itu.
Mana lokasi yang paling berkesan buat Anda? 
Hampir semua lokasi bencana memberi kesan khusus buat saya. Tapi, ada dua daerah yang seolah menjadi kampung halaman baru buat saya: Dusun Penyangkak, Bengkulu Utara; dan Sliwung, Situbondo. Ada semacam ikatan emosional kuat yang membuat hubungan saya dan warga setempat bertahan sampai sekarang.
Apa sasaran utama Anda di lokasi bencana?
Tentu penyelamatan nyawa sesama. Selanjutnya adalah penyembuhan trauma pascabencana. Saya selalu menggunakan anak-anak sebagai lokomotif, untuk memulihkan trauma. Anak-anak sifatnya netral. Saya ajak anak-anak untuk menyemangati orangtuanya agar berhenti menangis.
Bagaimana cara mendekati anak-anak? 
Saya biasa datang ke lokasi anak-anak berkumpul. Kalau perlu saya tidur bersama mereka di tenda pengungsian. Saya duduk di tengah-tengah mereka, lalu mendongeng dan menyemangati mereka. Buat saya, dongeng adalah jembatan imajinasi anak-anak yang pengaruhnya luar biasa. Ketika kita bisa mengarahkannya, itu menjadi kesempatan yang bagus untuk mengembalikan keceriaan mereka dan keluarganya.
Apa sebetulnya latar belakang pendidikan Anda?
Saya mendalami pertunjukan teater di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Setelah lulus saya mendirikan taman kanak-kanak dan sanggar dongeng. Untuk menutup biaya operasionalnya, awalnya saya nyambi jualan kerupuk dan nasi aking makanan bebek.
Keluarga apa tidak berkeberatan? 
Keluarga sangat mendukung. Setiap kali bencana, saya bisa sampai tiga bulan ndakpulang. Awalnya, anak saya sempat marah ketika saya ndak pulang-pulang. Suatu ketika, dia saya minta bicara melalui telepon dengan anak korban bencana yang tengah saya tangani. Setelah itu, saya beri pengertian bahwa masih banyak anak-anak yatim piatu yang membutuhkan ayahnya. Sejak itu, dia tidak pernah protes lagi. Setiap kali ada bencana dia malah menyemangati saya agar cepat pergi.
Istri saya juga mendukung dan selalu bilang ingin bisa berbuat baik untuk korban bencana. Makanya, sekalian saya oleh-olehi dia anak-anak korban bencana setiap kali pulang. Di rumah (Iman tinggal di kawasan Jatiasih, Jakarta), sudah ada delapan anak yatim yang kami asuh. Mayoritas saya ambil dari kawasan bencana. Mereka umumnya sudah tak memiliki orangtua dan usia setingkat anak SMP ke atas. Saya berpikir, kalau anak usia SD masih mungkin mendapat fasilitas sekolah gratis.
Apa yang membuat Anda melakukan ini semua? 
Saya percaya dengan konsep memberi satu dapat 10. Saya hanya ingin "berbisnis" dengan Tuhan. (kd)
• VIVAnews

Bekal Terakhir dari Ibu [Review]

Mereka meninggal dalam tugas. Direlakan keluarga menjemput maut di daerah bencana.
JUM'AT, 12 NOVEMBER 2010, 18:31 WIB
Maryadie, Sandy Adam Mahaputra

VIVAnews--Aris Widyatmoko. Usia 19 tahun. Seharian menolong pengungsi, Kamis petang 4 November 2010 itu, dia terlihat lelah. Ribuan  pengungsi  itu lari dari kampung-kampung di Kinahrejo, Cangkringan. Dihalau wedhus gembelyang dimuntahkan perut Merapi.
Aries memang dari Cangkringan, tapi kampungnya belum disergap awan panas. Pada erupsi pertama, Selasa 26 Oktober 2010 itu, petaka hanya sampai di kilometer 10 dari pucuk Merapi. Di luar radius itu masih aman. Dan Aris, seperti halnya sejumlah anak muda dari dusunnya, ramai-ramai menjadi relawan. Menolong para pengungsi. Mengangkut barang.
Badan letih. Keringat. Dan kotor. Aries lalu pamit mandi pada ibunya, Rahayu. Sang Ibu juga  ikut membantu di pengungsian. Rencananya, sesudah mandi dia meluncur ke Dusun Glagah Mayang. Di situ logistik untuk pengungsi ditumpuk.
Glagah Mayang, dua kilometer dari pengungsian. Ke arah pucuk Merapi.
Dipamiti sang anak, Rahayu yang juga terlihat lelah sontak menyodorkan uang. Dua lembar sepuluh ribu. Uang itu sudah lecek dan kumal.  “Untuk beli rokok dengan teman-temanmu,” kata sang Ibu. Sebelum melaju, Rahayu mengingatkan sang anak agar hati-hati, “ Kalau ada apa-apa cepat turun.”
Aries girang. Ini pertama kalinya, sang Ibu merelakan sangu (uang) membeli rokok. Rahayu memang super ketat. Melarang keras sang anak mengepulkan asap.  Aries lalu meluncur. Motor melaju di keheningan malam. Melewati rerimbunan pohon bambu. Gelap.
Di rumah dia bertemu sang ayah, Sriyono. Sesudah mandi dia pamit. Seperti sang Ibu, ayahnya juga berpesan agar hati-hati. Dan, jangan lupa makan. Dalam kegelapan malam, Aries kembali memacu motor. Melaju ke Glagah Mayang. Sang ayah ke pengungsian.
Beberapa jam kemudian sirene di pengungsian berpekik meraung. Wajah-wajah cemas. Raung Sirene itu sahut menyahut dengan perintah mengungsi dari pengeras suara.
Jumat dini hari 5 November itu, Merapi kembali mengamuk. Awan panas menusuk langit setinggi 8 kilometer. Membuhul, bergulung-gulung seperti susunan kulit domba. Lalu menghempas ke kampung-kampung, dusun dan desa,  dalam radius belasan kilometer.  Sejumlah ahli gempa menghitung bahwa dini hari itu, sekitar 100 juta meter kubik material meluncur dari perut Merapi.
Muntah sebanyak itu, Merapi mencatat rekor terbaru. Terdasyat selama 100 tahun belakangan. Horor juga berlipat kali.  Warga harus menjauh. Radius aman di luar 20 kilometer dari pucuk petaka. Dan posko pengungsian itu dalam radius bahaya. Cuma belasan kilometer dari mulut Merapi.
Dalam suasana mencekam,  Sriyono dan Rahayu membangunkan ibu-ibu tua yang sudah terlelap. Banyak yang bertanya ada apa gerangan. Dalam kegentingan itu, sedetik waktu berarti nyawa. Terlambat bergerak matilah sudah.
Rahayu mengabaikan semua pertanyaan. Terus berpekik agar warga bergegas. "Saya suruh pengungsi naik motor dan truk mencari tempat yang lebih aman," katanya. Jalanan gelap.  Listrik mati. Cuma diterangi lampu motor dan mobil yang berebut melaju.
Sudah separuh perjalanan, barulah Rahayu teringat anaknya, Arief Widyatmoko. Markas logistik yang dijaga sang anak itu jelas masuk radius super bahaya. Sembari menghela pengungsi, berkali-kali dia menelpon. Tak bersahut. Nada masuk pun tidak. Rahayu cemas alang kepalang.
Sang ayah berusaha balik arah. Tapi itu seperti memacu motor menuju “kematian”. Baru puluhan meter melaju, suara gemuruh terdengar kencang. Cuma beberapa depa di depan Sriyono, api melahap pohon-pohon bambu. Sriyono balik kanan. Menjauh dari kenggerian itu.  Kepanikan merasuki puluhan ribu orang.  Awan panas sudah mengalir di Sungai Gendol, yang tak berapa jauh dari pengungsian.
Kengerian dan haru biru itu ditonton berjuta mata dari seluruh negeri. Sejumlah stasiun televisi yang menggelar siaran langsung, memperlihatkan betapa kematian tidak saja dekat , tapi juga mengejar. Orang-orang tiba di Yogyakarta dengan debu tebal menempel baju, jaket, hidung, dan kepala. Juga menutup mobil, menutup lampu, yang membuat jalanan gelap gulita.
Bergegas dalam kegelapan itulah yang menyebabkan satu keluarga tewas. Mereka salah arah. Mestinya ke Yogyakarta, malah menghampiri Merapi. Menghampiri kematian.  
Rahayu yang membantu para pengungsi menuju Yogyakarta, terus menelepon sang anak. Tapi sama sekali tak bersahut. Di lokasi pengungsian yang baru, dia akhirnya tahu bahwa Glagah Mayang sudah tertimbun awan panas. Rahayu meraung menangis. Bersama suaminya, dia bergegas ke sejumlah lokasi pengungsian lain. Berharap sang anak masih hidup. Berkali-kali pula mendatangi Rumah Sakit Sardjito, tempat korban tewas dan luka dirawat.
Empat hari ke sana-ke mari hasilnya sia-sia belaka.
Dan berita duka itu datang Senin pagi, 8 November 2010. Tim SAR menemukan Aries dalam kondisi terpanggang. Jenazah diangkut ke Sardjito. Rayahu histeris melihat kantong mayat itu.”Maafkan Ibu nak,”dia berseru berkali-kali,  sembari berlutut memandang kantong itu.
Adalah Rahayu yang mewariskan darah relawan kepada Aries. Ibu berusia 50 tahun ini sudah lama bergabung dalam Taruna Siaga Bencana (Tagana). Rahayu memang sempat ragu ketika sang anak bergabung dalam Tagana. Belakangan dia bangga sebab Aries terlihat tekun. Senang. Iklhas menolong pengungsi.


Saat erupsi pertama, 26 Oktober 2010, Aris membantu ibunya mengevakuasi warga di sekitar Merapi. Juga ikut mengumpulkan obat dan makanan. “Padahal anak itu suka susah dikasih tau orang tua,”kenang Rahayu kepada VIVANews.com.



Lelucon terakhir Supriyadi

Kamis pagi 4 November 2010. Posko logistik Dusun Glagah Malang, jadi riuh. Dan itu karena Supriyadi.  Entah kenapa, pemuda 29 tahun itu memakai pakaian perempuan. Lalu berlenggak-lenggok menuju dapur umum.
Orang-orang tertawa terbahak-bahak melihat aksi kocak ini. Supriyadi adalah lelaki tulen luar dalam. Tapi di posko itu dia membaktikan diri di dapur. Memasak nasi, sayur dan lauk pauk. Di garis depan itu, wanita memang jarang. Kepada teman-temannya, Supriyadi bergurau bahwa busana wanita, juga aksi lenggak-lenggok itu dilakukan agar masakannya bisa maknyus seperti olahan kaum hawa.
“Ternyata itu lelucon terakhir,” kata Hadi B, rekan Supriyadi yang ditemui VIVANews.com di Rumah Sakit Sardjito.  Saat Merapi menebar abu kematian Jumat dini hari itu, Supriyadi dan sejumlah kawannya terjebak dalam barak. Tak sempat menyelamatkan diri . Sebab awan panas menyapu cepat.
Supriyadi lahir di Kulonprogo, Yogyakarta. Dia sudah bergabung dengan Tagana semenjak tahun 2004. Orangtuanya, Samudji dan Tumirah, merantau ke Riau. Bekerja sebagai petani kelapa sawit. Dari hasil sawit itulah mereka menyekolahkan sang anak hingga perguruan tinggi.
Ketika Merapi meletus, Supriyadi sedang menyusun skripsi. Dia kuliah di Sekolah Tinggi Pertanian (Stiper) di Yogyakarta. Jika maut tidak menjemput, tak lama lagi dia wisuda. Lewat seorang paman bernama, Slamet, kematian itu dikabarkan ke Riau.


Tanggal 9 November Samudji tiba di Yogyakarta. Langsung menuju kamar forensik. Demi melihat jenazah itu, Samudji bercucur air mata. Dia memastikan, jenazah dalam kantong itu adalah anaknya.”Dari ciri-cirinya itu benar putra saya. Mau bagaimana lagi. Saya rela,”ujar sang ayah sembari mengusap air mata. Kandas sudah harapan Samudji. Harapan agar si sulung itu menjadi sarjana.  



Berakhir di kampung sendiri

Jupri sudah mengungsikan keluarganya sesudah erupsi pertama, 26 Oktober 2010. Lama menjadi relawan, naluri waspadanya selalu menyala. Semua keluarga diungsi ke Barak Balai Desa Banjarsari, Cangkringan, Sleman. "Jangan tinggal di rumah dulu, tinggal di pengungsian. Biar gampang jika sewaktu-waktu Merapi meletus lagi," begitu pesan Jupri kepada adiknya yang bernama Dwi Prasetyo.
Kamis sore, 4 November 2010 itu tidak ada tanda-tanda Merapi mengamuk lagi. Jupri pamit pada keluarga. Dia hendak berangkat ke posko logistik, yang jauhnya 2 kilometer dari pengungsian. Ke arah Merapi. "Saya titip keluarga. Ingat kamu harus berjaga. Kalau ada apa-apa cepat lari ke bawah," kata Jupri kepada Dwi. Dia lalu menyapa satu persatu. Rini, sang istri, anak dan kedua orang tuanya.
Jupriyanto, begitu nama lengkapnya, sudah semenjak tahun 2004 masuk Tagana. Berbakti menjadi relawan. Lelaki 35 tahun itu sudah melalangbuana dari satu petaka-ke petaka yang lain.
Dia pernah berkubang mencari korban ketika tsunami menghempas Panggandaran beberapa tahun lampu, jumpalitan menyelamatkan orang dalam gempa Bantul dan mencari jenazah pada sejumlah wilayah yang dihempas banjir. “Menyelamatkan nyawa orang wajib hukumnya. Tanpa peduli apapun agama dan suku. Itu yang selalu kakak saya katakan ketika keluarga cemas atas profesinya itu," ujar Dwi.
Meski sering merelakan sang suami ke daerah bencana, sore itu  Rini  ragu melepas sang suami. Apalagi posko itu dekat ke Merapi. "Kamu hati-hari mas, aku dan Fauzi (anaknya) serta bapak dan ibu khawatir," kata Dwi mengulang pesan Rini.
Jupri cuma tersenyum. Dia berusaha menenangkan sang istri. “Aku pasti kembali," katanya. Sebelum menyalakan motor dia mencium kening sang istri. Kening anaknya. Mencium tangan kedua orangtuanya, sang ayah Trantowiyonom yang berusia 60 tahun dan Lanjariah, 55 tahun.
Jumat dini hari itu, suasana di pengungsian panik alang kepalang. Suara sirine dan perintah mengungsi bergema. Keluarga Jupri panik. "Saya disuruh bapak jemput Jupri tapi suasana sudah mencekam. Desa sudah terbakar,” kisah Dwi kepada VIVANews sambil meneteskan air mata.
Dalam suasana haru-biru menyelamatkan diri, Dwi mencoba menghubungi sang kakak. Gagal.  Telepon seluler Jupri sudah tak hidup. Setelah tiba di posko pengungsian yang baru, keluarga terus mencari Jupri. Bertanya kepada Tim SAR, teman-temannya di Tagana, dan berkali-kali datang ke Sardjito. Nihil. Mereka berharap Jupri selamat.
Tapi pagi Senin, 8 November 2010, kabar duka itu datang dari Tim SAR. Mayat Jupri ditemukan terpanggang di barak logistik Glagah Malang, Cangkringan. "Saya, ibu dan keluarga ikhlas. Ini suratan Tuhan,” tutup Dwi. Setelah bertaruh nyawa dari satu petaka ke petaka yang lain, Jupri berakhir di kampung halamannya. (wm)

• VIVAnews